SEJARAH SURAT- MENYURAT
![]() |
Add caption |
Umur surat-menyurat setua manusia
saat berbahasa dan mengenal tulisan. Di Mesir, ditemukan 15 surat peninggalan
masa Old Kingdom (sekitar 2686-2181 SM) ke masa New Kingdom (1550-1069 SM).
Surat-surat ini dari sanak keluarga—suami, istri, anak—untuk kerabat yang baru
saja meninggal. Kepercayaan orang Mesir bahwa orang yang sudah meninggal masih
memiliki kekuatan, maka mereka menulis surat dalam sebuah mangkuk, papirus,
atau kain linen yang ditaruh di dalam kuburan mumi. Isi surat tak hanya keinginan
untuk tetap terhubung setelah dipisahkan kematian, tetapi juga permintaan agar
orang yang telah meninggal tersebut tetap ikut terlibat dalam penyelesaian
persoalan-persoalan duniawi.
Beralih ke zaman Victorian abad
ke-18 di Eropa, kegiatan surat-menyurat tak hanya sebagai cara berkomunikasi,
tapi juga menjadi tradisi bahkan menjadi sebuah seni. Seni dalam menghias
amplop, antara lain dengan pernak-pernik semacam pita, membuat kertas surat
menjadi wangi dengan campuran 100 tetesan minyak esensial dari wangi bunga
ditambah sedikit alkohol, lalu menguncinya dengan sealing wax agar surat
terlindungi kerahasiaannya. Isi surat mulai dari bertukar kabar keseharian,
resep masakan, hingga sebuah lamaran. Bahasa surat menjadi pertimbangan
keluarga dalam memutuskan penerimaan atau penolakan lamaran tersebut.
Denyut nadi sejarah
Mengutip Thomas Mellon, seorang
penulis Amerika dalam bukunya Yours Ever, People On Their Letter (2009), surat
merupakan denyut nadi dari sejarah, detak jantung sebuah biografi. Hal inilah
yang memicu Mellon untuk mengumpulkan, menganalisis, dan membaca surat
korespondensi pemikir besar, di antaranya Sigmund Freud dan Carl Jung, novelis
dunia Gustave Flaubert dan George Sand (Amandine Aurore Lucile Dupin), serta
membuka kedalaman hubungan Jessica Mitford dan suaminya.
Mellon berduka akan tulisan tangan
yang sudah ditinggalkan banyak orang sekarang ini. Menurut dia, tulisan yang
diketik dengan komputer sangat tidak personal karena merusak keingintahuan kita
untuk mengenali keunikan seseorang yang bisa diawali melalui tulisannya.
Tulisan tangan setiap orang merupakan gambaran kehadiran seseorang yang
mencirikan keunikan orang tersebut. Hal ini tidak bisa digantikan betapapun
komputer kita menyediakan berbagai jenis pilihan huruf. Tak ada keintiman
karena membuat semua orang menjadi seragam.
Surat untuk presiden
Peter Lom, sutradara film dokumenter
asal Kanada, membuat film berjudul Letter to the President yang diputar pertama
kali di Festival Film Berlin tahun 2009. Peter Lom mengikuti kunjungan Presiden
Iran Mahmoud Ahmadinejad sepanjang tahun 2008 ke beberapa desa basis
pendukungnya. Penduduk-penduduk itu menuliskan surat untuk presiden mereka.
Saat Ahmadinejad tiba, masyarakat berlomba-lomba menyampaikan suratnya secara
langsung. Dalam setahun itu, Pemerintah Iran mengklaim menerima 10 juta surat.
Surat-surat itu berisi keluh kesah.
Misalnya, seorang ibu meminta Ahmadinejad mendatangkan strawberi karena putri
kecil perempuan itu sangat menginginkan buah tersebut. Seorang lelaki meminta
uang untuk membeli kambing dan seorang kakek yang tengah dirundung kesedihan
karena sang cucu meninggal dalam perang. Satu-satunya yang dimiliki dan bisa
dibagi oleh kemiskinan hanyalah cerita.
Dalam praktiknya hanya sedikit
sekali dari sekian banyak surat yang bisa terealisasi. Karena itu, masyarakat
kota yang lebih berpendidikan dan berkecukupan menganggap menulis surat pada
Ahmadinejad merupakan tindakan bodoh. Bagi mereka tindakan itu merupakan
kemunafikan dan propaganda politik belaka.
Bagi orang-orang yang bisa mengurus
dirinya sendiri tentu tak butuh presiden. Adapun bagi orang-orang yang terkunci
oleh sistem yang memiskinkan, satu-satunya harapan ialah seorang pemimpin.
Mereka mungkin dikecewakan oleh penantian, tapi tak membuat mereka kehilangan
harapan. Setidaknya mereka masih berniat mempunyai kepercayaan terhadap
presidennya. Seperti Naipaul, mereka ingin membuat dirinya tetap bertahan hidup
untuk surat-surat itu.
Saat kita memegang pena lalu
jari-jari kita menuliskan berbagai bentuk huruf, kita melihat diri kita di
situ. Kesadaran menghadirkan sosok diri yang menuntut kesungguhan dan
ketelitian. Kita tak ingin mencoret-coret kalimat yang salah lalu membuat wajah
surat tampak kotor—tak segampang menekan tombol delete atau copy paste—kita
lebih memilih untuk mengulang lagi dari awal.
Teknologi dengan dalil
kepraktisannya dijadikan keniscayaan. Karenanya kita menyimpan kekecewaan dan
mengunci kesedihan di dalam diri. Kadang disadari atau tidak kegelisahan jiwa
tersebut terlepas menjadi status Facebook yang deras sehingga kita tak
mengenali kembali perasaan-perasaan itu. Semua tampak serupa, semua tampak
sama. Harapan semakin tak terjangkau. Kepada siapa kepercayaan bisa kita beri?
Dan di manakah akan kita tulis detak jantung biografi diri? (*)
Fanny Chotimah Pegiat Bale Sastra
Kecapi Solo dan Redaktur Buletin Sastra Pawon
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar